Selalu Lunasi Premi, Klaim Penderita Kanker Ditolak Pihak Asuransi

TangerangTribun.com – Tri Lasmono salah satu penderita kangker kelenjar bening sekaligus nasabah, berkeinginan mendapatkan pelayanan kesehatan berkualitas dengan mengikuti asuransi kesehatan Maestro Elit Care PT AXA Financial Indonesia.

Bagaimana tidak, klaim cashless warga Cikupa, Kabupaten Tangerang itu malah ditolak pihak AXA, justru disaat dirinya kritis akibat penyakit kanker getah bening yang menggerogoti di bagian lehernya.

Tri Lasmono pun menyampaikan keluhannya bahwa dirinya mulai menjadi peserta asuransi kesehatan Maestro Elit Care PT AXA Financial sejak 16 Agustus 2012.

“Premi pertahun yang saya bayarkan sejak tahun pertama Rp28 juta, dengan layanan askesnya saja Rp7,8 juta pertahun,” ucap Tri Lasmono kepada TangerangTribun.com saat dijumpai di wilayah Serpong, Jumat (28/7/2017).

Tri pun melanjutkan, saat pertama mendaftar menjadi nasabah asuransi AXA FINANCIAL, pihak agen yang menawarkannya mengatakan, klaim askes persatu kasusnya Rp850 juta dengan maksimal pertahunnya Rp3 miliar.

Selama lima tahun menjadi nasabah AXA, Tri belum pernah mengklaim dan selalu melunasi preminya. Hingga pada 14-16 Desember 2016 dirinya jatuh sakit dan diperiksa di RS Siloam, Kebon Jeruk.

“Saat itu saya memeriksakan benjolan di leher kanan saya yang belakangan ternyata diketahui kanker kelenjar getah bening, Lalu saya mengajukan cashless, tetapi ditolak oleh AXA,” ujarnya.

Saat itu, pihak AXA beralasan, sistem klaim cashless pasien sudah diganti oleh reimbuse. Jawaban pihak AXA kontan membuat Tri kaget. Sebab, bebannya yang ditanggungnya kian bertambah berat.

Selain menanggung sakit, dia juga masih harus memikirkan biaya berobatnya yang cukup tinggi, mencapai Rp270 juta. Tidak berhenti di situ, Tri pun akhirnya pindah berobat ke RS Puri Indah, Jakarta Barat.

Lagi-lagi, Tri harus menelan pil pahit. Dia harus menanggung sendiri beban biaya berobatnya, setelah pengajuan klaim pra-otorisasinya ditolak AXA dengan alasan yang sangat membuat dirinya jengkel.

“Katanya, proses pencarian 60 hari sejak 10 Maret 2017, tapi hingga kini masih juga belum ada tanda kejelasan. Sementara biaya perawatan di rumah sakit, tetap harus segera dibayar,” sambung Tri lagi.

Melihat penyakitnya yang sudah stadium 3, Tri akhirnya terbang ke Malaysia. Di sana, dipegang oleh spesialis kanker dari Orientak Melaka Straits Medical Center dan mendapat berbagai perawatan medis.

“Di sana, saya dua kali di operasi. Pertama di amandel, dan kedua di bagian leher. Kelenjar getah bening saya yang diambil sepanjang 18 centimeter. Setelah operasi, masih ada tindakan lagi,” terangnya.

Pengobatan lanjutan itu adalah radioterapi dan kemoterapi sebanyak 33 kali. Saat ini, dirinya sudah 25 kali melakukan tindakan itu. Dan klaim 60 yang dijanjikan masih juga belum cair dan tanpa kejelasan.

“Total biaya pengobatannya, kemo 6 kali dan radiasi 33 kali Rp 200 juta. Operasi dan diagnosa Rp265 juta. Kalau ditambah dengan rumah sakit sebelumnya Rp275 juta. Semua saya bayar sendiri,” jelasnya.

Tidak tahan dengan kasus kesehatan yang dialaminya, Tri pun akhirnya menyerahkan semua kepada Kuasa Hukum dari Kantor Hukum Swardi Aritonang, untuk segera menyelesaikan semua persoalan itu.

“Saya sudah dua kali mengajukan kepada pihak AXA. Pertama somasi kami diabaikan. Saat somasi yang kedua, baru mendapat respon. Kami diajak bertemu oleh pihak AXA,” timpal Swardi Aritonang.

Dalam pertemuan itu, dia menanyakan sistem cashless yang tiba-tiba diubah jadi reimbuse. Kedua dia juga menanyakan kenapa pembanyaran reimbuse begitu sulit dan terbelit-belit prosesnya.

“Hingga kini sudah 3 bulan lebih dan belum ada kepastian kapan reimbuse itu akan dibayarkan.
Kalau sudah seperti ini,kami akan mengajukan gugatan wanprestasi ke pihak yang berwajib,karena tidak sesuai dengan kesepakatan awal penawaran” tegas Swardi lagi.

Sementara itu, agen Maestro Elit Care PT AXA Financial Indonesia Aswita Diana mengatakan, dirinya tidak tahu menahu tentang perubahan sistem cashless jadi reimbuse yang dilakukan perusahaannya.

“Sesuai perjanjian awal, sistem klaim di rumah sakit rekanan menggunakan cashless, sesuai dengan yang pertama saya tawarkan ke Pak Tri. Kalau ada perubahan saya tidak tahu,” paparnya.(fik/sam)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*