TANGERANG TRIBUN - Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mendesak umat Islam untuk menjaga kesucian bulan puasa Ramadhan sebagai dasar membangun kepribadian dan kebangsaan mereka.
“Luangkan waktu Ramadhan ini untuk merefleksikan, mengevaluasi dan meningkatkan kualitas. Selain itu, umat Islam diminta untuk dikhususkan secara individual dan menjadi orang yang saleh secara sosial, serta dapat membangun kedamaian di antara manusia,” Lukman mengatakan dalam sebuah pernyataan tertulis di Jakarta awal pekan ini.
Menurutnya, Ramadhan dalam bahasa Arab berarti membakar. Itu berarti bahwa Ramadhan adalah bulan bagi umat Islam untuk membakar nafsu, amarah, cemooh dan perilaku merusak lainnya.
Untuk itu, Lukman berharap bahwa Ramadhan tidak dipenuhi dengan ucapan, penghinaan, penghinaan, penghinaan, baik dalam ruang perspektif sosial maupun dalam ranah agama.
“Jangan sampai ke alam religius, apalagi tempat ibadah, dikotori dengan pidato kebencian yang bisa menghilangkan kesucian ibadah,” katanya.
Menteri berharap puasa dapat meningkatkan rasa welas asih, saling menghormati dan menghormati orang lain. Orang yang berpuasa tidak akan mendapatkan imbalan jika mereka tidak mampu membangun kedamaian dalam kehidupan sosial.
Dalam konteks kebangsaan, katanya, kesucian Ramadhan harus dipertahankan untuk memperkuat komitmen nasional untuk melestarikan Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ideologi filosofis Pancasila.
“Momentum Ramadhan harus dijadikan titik perpindahan bersama dalam menegaskan kembali dan menegakkan ideologi Pancasila sebagai basis pengembangan negara sebagai bangsa untuk umat beragama. Selain membangun kepribadian muslim yang sempurna, Ramadhan juga diharapkan bisa Memperkuat kebangsaan umat Islam sebagai warga negara, “katanya.
Sekarang umat Islam telah sampai pada akhir bulan Arab Syaban, yang berarti bahwa hari pertama bulan puasa Ramadhan jatuh pada hari Sabtu.
Berdasarkan sesi Isbat (menentukan awal Ramadan) Departemen Agama, hari pertama bulan puasa di Indonesia jatuh pada hari Sabtu. Makanya, umat Islam Indonesia mulai berpuasa pada hari Sabtu.
Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan bahwa bulan baru menandai awal bulan puasa Ramadhan atau hilal dan terlihat di empat titik pengamatan di seluruh negeri sebelum sesi Isbat memutuskan hari Ramadan pertama pada hari Sabtu.
“Ada dua pertimbangan dalam menentukan dimulainya bulan puasa Ramadhan, yaitu penampakan bulan baru atau hilal dan posisi hilal berdasarkan perhitungan astronomi,” kata menteri di Jakarta, Jumat malam.
Berdasarkan perhitungan astronomi, menurut menteri, posisi bulan berada 8,51 derajat di atas cakrawala. Dengan demikian, peserta sesi Isbat dengan suara bulat sepakat bahwa awal bulan puasa pertama akan jatuh pada hari Sabtu, 27 Mei.
Selama hari puasa, umat Islam di seluruh dunia akan menjalani latihan spiritual, menahan diri dari gairah, menjauhkan diri dari minum dan makan pada siang hari, mulai fajar hingga senja.
Setelah puasa selama berhari-hari berturut-turut bulan puasa, dengan tunduk pada keinginan Tuhan, umat Islam bebas dari dosa. Tuhan menebus orang-orang yang secara berurutan berpuasa pada hari-hari bulan puasa karena mereka telah mengalami penebusan dengan berkomunikasi dengan Tuhan dengan penyerahan yang dalam.
Sekarang hari-hari bulan puasa akan datang untuk membawa keberuntungan. Umat ​​Islam menyambutnya dengan tekad untuk mengembangkan hubungan mereka dengan Tuhan dan dengan manusia melalui doa teraweh malam bersama.
Dengan bulan puasa, umat Islam memiliki kesempatan untuk membangun kualitas mereka setahun sekali, keduanya sebagai ciptaan Tuhan dan sebagai warga negara.
Majelis Ulama Indonesia (MUI) mendesak umat Islam untuk memanfaatkan momentum yang ditawarkan Ramadhan untuk mewujudkan kebangkitan spiritual berdasarkan iman, sains, dan perbuatan baik untuk membangun pengabdian pribadi dan sosial untuk membantu Indonesia.
“MUI telah meminta umat Islam untuk menyambut bulan Ramadhan dengan iman dan ketulusan,” kata Wakil Sekjen MUI Amirsyah Tambunan di Jakarta, Jumat.
Dia juga meminta umat Islam untuk melakukan toleransi selama bulan suci dan tidak terlibat dalam konflik, termasuk perbedaan dalam agama.
Muslim harus menghindari perilaku konsumtif, boros, dan tidak diinginkan, karena hal itu hanya akan membahayakan diri mereka sendiri dan orang lain, sekjen MUI menekankan.
Tambunan mendesak umat Islam yang sehat secara finansial untuk menawarkan doa dan melakukan perbuatan baik dengan membantu orang miskin dan membutuhkan dengan membagikan sedekah, memberikan sedekah dan wakaf, serta melakukan bentuk amal sosial lainnya selama bulan Ramadhan.
MUI juga telah meminta petugas penegak hukum untuk menindak berbagai tindakan melanggar hukum yang dapat mempengaruhi kesungguhan bulan puasa Ramadhan, seperti peredaran minuman keras, atau alkohol, dan praktik kehidupan malam dan prostitusi.
MUI juga telah mendesak kelompok masyarakat atau organisasi agar tidak mengambil undang-undang tersebut di tangan mereka dan menghindarinya. (Antaranews)

Leave a Reply