TPA Rawa Kucing BerMETAMORFOSIS

TANGERANG TRIBUN – Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Rawa Kucing adalah sebuah kawasan pusat penimbunan sampah yang didirikan sejak tahun 1992 oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Tangerang. Berlokasi di Jl. Iskandar Muda, Kedaung Wetan, Neglasari, Kota Tangerang, Banten.

Pemerintah kota mendirikan sebuah TPA tersebut guna menampung sekaligus mengkoordinasi pembuangan sampah. Sehingga limbah baik hasil produksi mau pun non produksi bisa dilokalisasikan dengan sebaik – baiknya.

Namun sayangnya pada masa – masa awal didirikannya, TPA Rawa Kucing belum bisa dimaksimalkan keberadaannya. Terkesan berantakan dari segi penataan dan pengolahannya.

Sejumlah dampak negatif pun ditimbulkan dari keberadaan TPA tersebut. Seperti, kerusakan infrastruktur (misalnya, kerusakan ke akses jalan oleh kendaraan berat), pencemaran lingkungan setempat (seperti tercemarnya air tanah oleh kebocoran dan pencemaran tanah sisa salama pemakaian TPA, begitu pun setelah penutupan TPA), pelepasan gas metana yang disebabkan oleh pembusukan sampah organik (metana adalah gas rumah kaca yang berkali – kali lebih potensial daripada karbon dioksida dan dapat membahayakan penduduk setempat), pelindung pembawa penyakit seperti tikus dan lalat dari TPA yang dapat dipastikan mengandung bakteri lebih banyak, dan dampak negatif lainnya (misalnya, debu, bau busuk dan polusi).

Dengan begitu banyaknya dampak negatif yang timbul, masyarakat sekitar pun merasa terganggu oleh keberadaan TPA Rawa Kucing ini. Hal itu dirasakan Indra, satu warga sekitar yang mengeluhkan buruknya pengelolaan di lokasi TPA tersebut.

“Dulu itu TPA Rawa Kucing masih berantakan, bau dan pengap. Jalur pintu masuk TPA sampai ke tempat pembuangannya saja ledok dan masih tanah. Sehingga mobil truk sampah mudah terjeblos akibat tanah amblas dan beban sampah yang begitu berat,” ucap Indra.

Ia juga mengatakan, daerah di sekitar TPA rawa kucing itu masih rawan lantaran sepi dan kurangnya penerangan lampu jalan.

“Dulu, kalo ada orang yang mau datang atau pun melintas pasti merasa risih bercampur rasa takut. Karena jalan yang lewat TPA itu dulunya gelap banget dan rawan aksi begal motor juga,” ungkapnya.

Meski demikian, ada banyak juga warga yang memanfaatkan keberadaanya. Mereka memulung sampah – sampah dilokasi TPA Rawa Kucing guna memenuhi kebutuhan hidupnya sehari – hari.

“Warga sekitar dulunya mayoritas pemulung sampah. Mereka memulung demi kelangsungan hidup dan menyekolahi anak – anaknya,” kata indra saat di wawancarai Tangerang Tribun.

Di awal tahun 2016 pemerintah kota Tangerang merencanakan TPA Rawa Kucing menjadi pusat produksi Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Bio Solar. Saat itu, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama Pemkot Tangerang, tengah membangun alat pengolahan limbah yang merupakan bahan baku BBM tersebut.

Inovasi tersebut dianggap mampu mengurangi volume limbah di Kota Tangerang yang semakin hari semakin menumpuk.

Kepala Tata Usaha (TU) Rawa Kucing, Masan yang saat ini tengah meneruskan rencana Pemkot dan Kementrian ESDM tersebut, bersama para pekerja lainnya terus berupaya agar TPA Rawa Kucing tidak dipandang negatif lagi baik oleh warga sekitar mau pun masyarakat kota Tangerang.

Saat ini, Masan terbilang sukses dalam menyulap TPA Rawa kucing menjadi lebih baik, nyaman dan indah. Hal itu terlihat telah banyak pohon rindang di area pintu masuk. Jalur kendaraannya pun telah diaspal. Tak hanya itu, kini banyak infrastruktur yang telah dibangun. Seperti, adanya klinik dan staff office. Bahkan telah dibuat taman di dalamya yang lengkapi dengan kolam ikan, saung singgah, kebun binatang mini dan lapangan sepak bola.

“Alhamdulillah kini sudah ada klinik, untuk para pekerja kami yang sakit. Jadi gak perlu berobat di luar,” kata Masan.

Ia selalu menampung ide –  ide positif dari para karyawannya. Dan hasilnya pun terlihat ketika TPA Rawa Kucing saat ini tampak lebih baik dalam banyak hal.

“Saya selalu berfikir dan berusaha bersama mereka, bagaimana TPA Rawa Kucing ini tidak dilihat sebelah mata oleh masyarakat,” papar Masan seraya mengatakan jika tanpa karyawannya, dirinya mungkin dipastikan akan kesulitan dalam mengurus, menjaga, serta merawat TPA tersebut apa lagi berupaya menjadikan TPA Rawa Kucing seperti sekarang ini.

Ke depannya, Masan berinovasi menjadikan TPA Rawa Kucing sebagai sebuah lokasi wisata. Ia berencana akan membuat bukit savana dengan taman – taman yang indah disekelilingnya. Sehingga, masyarakat kota Tangerang tidak perlu malu lagi, risih atau pun ternganggu tetapi harus berbangga dengan adanya TPA Rawa kucing di kotanya tersebut. Sebab TPA Rawa Kucing kini telah berMETAMORFOSIS menjadi suatu tempat yang lebih indah dan bisa dinikmati manfaat serta keindahannya oleh masyarakat Kota Tangerang. (adv)

(Visited 593 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*