Peran Pemuda Islam Dalam Menjaga Kebhinekaan

TANGERANG TRIBUN, TANGERANG – Universitas Budi Luhur, Ciledug menggelar acara Muslim Conference (BLMC). Acara tersebut merupakan agenda besar tahunan yang diselenggarakan oleh LDK Al-Azzam Universitas Budi Luhur.

“Tahun ini kami mengangkat tema bertajuk Peran Pemuda Islam dalam Menjaga Kebhinekaan,” kata Ketua Panitia, Khidrotul Hidayat di Universitas Budi Luhur pada Sabtu (27/5/2017).

“Awal mula mengapa tema ini diangkat adalah karena selama ini isu SARA sudah banyak beredar. Dan menjadi alasan utama dimulainya suatu perpecahan,” jelasnya.

“Padahal hakikatnya SARA adalah kemajemukan yang menjadi kekuatan utama bangsa ini,” tambahnya.

Khidrotul menerangkan, tujuan dan harapan dari diselenggarakannya acara ini adalah agar muncul kesatuan pemikiran dari berbagai sudut pandang yang berbeda. Baik dari sisi pemuda yang diwakili oleh pelajar SMA dan mahasiswa umum.

Khidrotul mengatakan , ada juga dari sisi aktivis sosial yang mewakili UKM serta aktivis keagamaan yang mewakili FSLDK JADEBEK.

Acara ini dihadiri oleh 89 orang peserta umum. Terdiri dari mahasiswa Universitas Budi Luhur beserta mahasiswa eksternal kampus, dan para undangan yang berasal dari UKM/ORMAWA Universitas Budi Luhur, SMA/SMK, dan FSLDK JADEBEK.

Berlangsungnya acara ini, menghasilkan kesepakatan sebagai berikut:

1. Negara Indonesia adalah negara yang majemuk dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, oleh karena itu sudah semestinya Islam menjadi pemersatu bangsa sebagaimana yang telah dilakukan oleh tokoh-tokoh terdahulu yang berusaha membangun kemerdekaan negara ini.

2. Islam adalah agama yang cinta damai, berbagai aksi damai yang dilakukan sebelumnya didasarkan pada kecintaan terhadap Allah dan kecintaan terhadap negara ini. Aksi Bela Islam dan Al-Qur’an juga bertujuan untuk menjaga keutuhan NKRI, jangan sampai dengan adanya aksi ini malah memecah belah persatuan dan kesatuan antar suku, agama, ras dan adat yang didasarkan pada prinsip saling toleransi satu sama lain, akan tetapi yang dimaksudkan disini adalah toleransi yang memiliki batasan antar komponennya.

3. Sebagai seorang aktivis keagamaan, tidak boleh hanya berfokus pada ilmu agama saja, namun juga harus memiliki wawasan pengetahuan yang luas terhadap cakrawala dunia. Melebarkan pemikiran dengan tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan As-Sunnah merupakan cara agar dakwah tetap bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun.

“Dan semboyan Bhineka Tunggal Ika harus tetap dipertahankan untuk bisa mensyiarkan agama Islam dengan tetap menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” tegasnya. (Wina)

(Visited 133 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*