Jasa Titipan Tak Luput Jadi Modus, Sinergi Operasi Gabungan Terus Diperbagus

TangerangTribun.com, BANDARA – Sendiri mampu berjaya, bersama mengguncang dunia. Acapkali argumen ini didengungkan untuk menunjukkan betapa segala sesuatu akan Iebih baik hasilnya jika dilakukan secara berjamaah. Menjadi positif ketika hal yang dilakukan tersebut adalah hal yang baik. Ironisnya, metafora ini berlaku juga untuk segala hal yang negative, penyelundupan narkoba misalnya. Semakin banyak pihak yang terlibat dalam aksi haram ini, semakin canggih pula modus yang digunakan. Berbagai modus penyelundupan bermunculan, Iewat jasa titipan pun tak luput digarap. Sedikit Iengah saja dari aparat, narkotika dan sejenisnya pun akan beredar kemana-mana. Selama bulan Juli hingga pertengahan bulan Agustus, sebanyak 5.092 gram Methamphetamine dan 13.917 butir Ekstasi yang akan diselundupkan berhasil digagalkan oleh Bea Cukai Soekamo-Hatta dalam operasi gabungan bersama POLDA Metro Jaya, POLRESTA Bandara, dan BARESKRIM POLRI. Total kasus penyelundupan narkoba ini terdiri dari Iima kasus yang keseluruhannya dilakukan dengan modus barang penumpang. Jumlah tersangka yang berhasil diamankan sebanyak enam belas orang dengan sebelas orang warga negara Indonesia dan Iima orang warga negara asing.

Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pelayanan Utama (KPU BC) Tipe C Soekamo-Hatta pada hari Kamis, 15 Agustus 2019, Erwin Situmorang selaku Kepala KPU BC Tipe C Soekamo-Hatta menjelaskan kronologi enam kasus penyelundupan narkotika ini kepada awak media.

Penggagalan Penyelundupan Methamphetamine dan Ekstasi melalui Terminal 3 Kedatangan internasional Bandara Soekarno Hatta.

Kasus pertama, pada hari Jumat (19/7), berdasarkan Hasil Xray yang dilakukan petugas, dilakukan pemeriksaan atas penumpang pesawat dengan rute Hongkong-Jakarta, berinisial ESW (Pria, 51 th), yang diketahui adalah pria berkewarganegaraan Malaysia. Dari hasil pemeriksaan barang bawaan penumpang, petugas mendapati di bagian dinding belakang koper ditemukan 2 bungkus plastik berlapis kertas karbon yg disembunyikan dan didalamnya terdapat ribuan pil berwama merah muda yg diduga Ekstasi. Selanjutnya dilakukan wawancara singkat, ditemukan bahwa penumpang menyatakan bahwa bagasi tersebut bukan miliknya melainkan milik penumpang lain berinisial CCK (32 th, Pria, warga negara Malaysia) sesuai dengan claimtag yg tertera pada bagasi dan mengaku tidak saling mengenal. Adapun bagasi yang sebenarnya milik dan penumpang terseb’ut sesuai dengan claimtag warna dan bentuknya memiliki ciri yang hampir sama. Petugas melakukan pemeriksaan yang mendalam dan mendapati bahwa pada handphone yang dibawa oleh ESW ditemukan gambar/foto bagasi milik CCK sehingga disimpulkan bahwa sudah terjadi komunikasi sebelumnya antara kedua belah pihak. Koordinasi Control Delivery dilakukan dengan pihak Polda Metro Jaya dan berhasil mengamankan pria berinisal DB (47 th, Pria, warga negara Indonesia) yang selanjutnya dinyatakan sebagai saksi. Tim gabungan juga mengamankan pria dengan inisia! CB (49 th, Pria, warga negara Hongkong), EK (46), D (39), NJ (45) dan T (37 th) yang keempatnya adalah pria berkewarganegaraan Indonesia. Tujuh tersangka dan barang bukti berupa 13.917 butir ekstasi dibawa ke Kantor Pelayanan Utama Bea dan Cukai Tipe C Soekarno Hana untuk dilakukan pengadministrasian dan serah terima kepada tim dari Direktorat Narkoba Subdit 2 Unit 1 Polda Metro Jaya.

Kasus kedua, pada hari Jumat (26/7), berdasarkan hasil xray dan pemeriksaan petugas atas bagasi MR (47 th, Pria) penumpang ex pesawat Malindo Air OD 316 rute Kuala Lumpur-Jakarta; pesawat Batik Air ID 6019 rute Chennai-Kuala Lumpur (penerbangan sebelumnya) didapati pakaian-pakaian wanita beserta aksesorisnya dalam keadaan baru dan masih dibungkus plastik. Dalam bagasi tersebut juga ditemukan 23 gulung tali renda yg di dalam gulungannya masing-masing disembunyikan kristal bening dibungkus plastik berlapis kertas karbon dengan jumtah total 45 bungkus paket seberat 1.927 gram. Selanjutnya dilakukan pengujian terhadap kristal-kristal bening tersebut dengan alat uji narkotika dan hasilnya positif Methamphetamine. Dari hasil wawancara, penumpang tersebut dirasakan sangat tidak kooperatif dan mengaku tidak tahu menahu terkait isi barang. Koordinasi control delivery dilakukan dengan pihak POLRESTA Bandara Soekarno Hata namun tidak berhasil mengungkap pengendalinya hingga waktu yang ditentukan.

Di permulaan bulan Agustus, pada hari Sabtu (3/8) kasus ketiga terjadi. Berdasarkan hasil profiling dari petugas terhadap penumpang ex pesawat Malaysia Airlines dengan nomor penerbangan: MH 1034 rute Johor Bahru Kuala Lumpur dan MH 0711 rute Kuala Lumpur Jakarta, dilakukan pemeriksaan terhadap barang bawaan dan badan penumpang berinisial M (28 th, Pria. warga negara Indonesia). Hasil pemeriksaan bagasi dari penumpang tersebut adalah negatif narkoba. Selanjutnya, dilakukan wawancara mendalam terhadap penumpang tersebut hingga akhimya penumpang tersebut mengakui bahwa telah membawa narkotika dengan cara disembunyikan di dalam lubang anus (inserted). Selain itu petugas juga memperoleh informasi bahwa M datang bersama penumpang Iain berinisial Y (42 th, Wanita, warga negara Indonesia). Y mengakui bahwa dirinya juga menyembunyikan narkotika di dalam badannya dan selanjutnya secara bertahap kedua penumpang tersebut mengeluarkan kapsuI-kapsul plastik berisi serbuk kristal bening melalui anus. Jumlah Methamphetamine yang berhasil diamankan adalah sebanyak 381 gram dengan rincian M sebanyak 3 butir kapsul plastik dgn berat 197 gram dan Y sebanyak 3 butir kapsul dengan berat 184 gram. Control delivery dilakukan dgn pihak POLRESTA Bandara Soekarno Hatta dan berhasil mengamankan SK (23 th,Pria, warga negara Indonesia) dan AM (37 th. Pria, warga negara Indoensia).

Seminggu kemudian, tepatnya hari kamis (8/8) kasus keempat terjadi. Hasil Proming dan pemeriksaan petugas terhadap bagasi pria berinisial TA (27 th, warga negara Nigeria), penumpang ex pesawat Ethiopian Airlines dengan nomor penerbangan ET 910 rute ABV (Nigeria)-ADD (Ethiopia) dan ET 628 ADD (Ethiopia) CGK (Jakarta) kedapatan negatif narkoba. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan badan, rontgen, serta wawancara mendalam. Hasil rontgen menunjukkan bahwa di dalam perut penumpang tersebut terdapat kapsul-kapsul dalam jumlah banyak yg diduga berisi Narkotika berjenis Methamphetamine. Koordinasi control delivery dilakukan dengan pihak BARESKRIM POLRI. Tim gabungan bersama TA selanjutnya bergerak menuju Hotel Kalisma di daerah tanah abang, Jakarta pusat. Di dalam kamar hotel, secara bertahap TA mengeluarkan kapsul-kapsul berisi narkotika dari dalam perutnya yang disembunyikan dengan cara ditelan (swallowed) dengan keseluruhan berjumlah 63 butir dan berat 960 gram. Sampai dengan han‘ sabtu tanggal 10 Agustus 2019. pengendali tidak dapat ditemukan sehingga tim akhirnya memutuskan mengehentikan pengejaran dan melakukan serah terima tersangka beserta barang bukti di Kantor Bea Cukai Soekamo-Hatta.

Kasus kelima terjadi pada hari Sabtu (10/8) dan merupakan kasus yang cukup unik. Hasil Xray dan pemeriksaan petugas terhadap bagasi wanita berinisia AA (22 th, warga negara Indonesia) penumpang ex pesawat Malinda Air dengan nomor penerbangan OD 206 rute DEL (lndia)-KUL (Malaysia) dan OD 316 KUL (Malaysia)-CGK (Jakarta) dicapati lima box atau kotak berisi parfum dan ikat pinggang (belt) yang masing-masing didasarnya juga disembunyikan plastik hitam berisi kristal bening dengan rincian; kotak bertuliskan “MONT BLANC EMBLEM” berwarna hitam berisi sepuluh paket kristal bening dengan berat 573 gram, kotak bertuliskan ‘MONT BLANC EMBLEM ABSOLU’ berwarna cokelat muda berisi 10 paket kristal bening dengan berat 573 gram, kotak bertuliskan “MONT BLANC” berwarna hitam berisi 2 paket kristal bening dengan berat 215 gram, kotak bertuliskan “GUCCI” berwana merah maroon berisi 2 paket kristal bening dgn berat 215 gram, dan kotak bertuliskan “Salvatore Ferragamo” berwarna merah berisi 2 paket kristal bening dengan berat 214 gram. Selanjutnya, petugas melakukan pengujian terhadap kristal-kristal bening tersebut dengan alat uji narkotika dan didapati positif Methamphetamine. Berdasarkan hasil wawancara terhadap AA diperoleh keterangan bahwa dia sering membuka jasa penitipan (jastip) antar kota melaui media sosial. Beberapa waktu yang lalu ia mendapat tawaran car seseorang untuk berangkat mengambl barang jastip ke India. Sesampainya di India AA berterrJ dengan seseorang di sebuah hotel dan barang jastip tersebut diserahkan dengan jumlah sebanyak 5 kotak beserta sebuah koper merah dan nantinya akan diambil oleh seseorang ketika la samnai di Jakarta. Koordinasi control delivery dilakukan dengan pihak POLRESTA Bandara soekarno Hatta dan tim gabungan selanjutnya berhasil mengamankan dua orang pria berinisial T (38 th, warga negara Indonesia) dan LR (39 th, warga negara Indonesia) yang awalnya diduga datang sebagai penjemput. Setelah dilakukan wawancara singkat, tim segera meluncur ke daerah kapuk muara, Jakarta utara tempat tinggal T untuk melakukan penggeledahan. Jumlah barang bukti yang disembunyikan pada dasar kemasan barang sebanyak 1.791 gram Methamphetamine. Tim berhasil mendapatkan barang bukti tambahan yang diduga Methamphetamine dengan berat bruto 33 gram. sehingga total untuk barang bukti yang didapatkan sebanyak 1.824 gram Methamphetamine.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala KPU Bea Cukai Tipe C Soekarno Hatta Erwin Situmorang mengatakan bahwa berdasarkan undang-undang nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. “Para pelaku dijerat dengan hukuman pidana mati atau pidana seumur hidup, paling lama 20 tahun penjara dan pidana denda maksimum 10 milyar ditambah 1/3 dalam hal barang bukti melebihi 1 kilogram.

“Upaya emberantasan narkotika ini bukan hanya tugas aparat hukum saja, akan tetapi peran aktif masyarakat sangat di perlukan,” tegas Erwin. (sam)

(Visited 326 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*