Dollar Melonjak, Pengrajin Tempe di Tangerang Cemas

ILUSTRASI PENGRAJIN TEMPE
Ilustrasi. [Istimewa]

TangerangTribun.com – Mengetahui nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika mengalami keterpurukan, pengrajin tempe di Tangerang mengalami kepanikan. Mereka pun cemas lantaran dollar hingga kini menyentuh di angka lebih dari Rp. 15.000.

Seperti yang dialami pengrajin tempe di Pasar Sepatan, Kabupaten Tangerang. Jefri (35) satu dari pengrajin tempe mengungkapkan kegalauannya terhadap naiknya nilai tukar dolar saat ini.

“Dikhawatirkan naiknya dolar akan menjadi faktor penghambat berproduksi. Sebab bahan baku kacang kedelai yang kami gunakan masih import yang harganya bergantung pada nilai tukar dollar,” ujar Jefri, Rabu (5/9/2018).

“Dan kalau nilai tukar dollar terus naik, bisa dibayangkan akan terjadi kenaikan pada bahan baku kedelai, yang berakibat menambah beban permodalan,” sambungnya.

Lelaki berusia 35 tahun ini pun semakin risau. Lantaran daya beli masyarakat terhadap tempe juga terbilang menurun.

“Biasanya kalau kacang naik, imbasnya kami sangat merasakan sendiri. Ketika kami menyiasati dengan menaikan harga jual atau mengurangi volume tempe, maka ketika itu juga daya beli masyarakat menurun terhadap tempe, yang berujung pada tidak terserapnya jumlah produksi hingga mengalami kerugian,” ucap Jefri.

Terhadap nilai jual tempe dan harga  bahan baku yang digunakan, Jefri mengungkapkan untuk saat ini masih menggunakan stock kedelai yang masih menggunakan harga lama. Yakni Rp.7.500 kg dengan nilai jual tempe dengan berat 600 gram dihargai Rp. 6.000.

“Sedangkan tempe dengan berat 700 gram dijual dengan harga Rp. 7.000 dengan harga jual tempe saat ini sudah menurunkan daya beli masyarakat. Bagaimana kalau harga tempenya dinaikan, bisa semakin turun daya beli masyarakat,” katanya dilanda kegalauan.

Hal senada diungkapkan oleh pengrajin tempe lainnya yaitu Alban (38). Guna menjaga keberlangsungan usaha yang sudah dijalankan turun temurun tersebut, Alban bersama para pengrajin tempe hanya bisa berharap kepedulian pemerintah menjaga stabilitas harga kedelai.

“Semoga pemerintah bisa mengambil kebijakan yang bisa memberikan solusi terhadap keberlangsungan para pengrajin tempe yang masih bergantung pada bahan baku kedelai import,” papar Alban. (sam)

(Visited 437 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*