Berbagai Modus Penyelundupan Narkotika Terus Dicoba, Bea Cukai Bandara Soetta Pantang Terlena

TangerangTribun.com, BANDARA – Kalau sudah harta yang berbicara, nyawa pun menjadi tidak berharga. Beragam aksn nekat dicoba, demi untuk upah yang tidak seberapa. Berbagai modus penyelundupan terus dilakukan termasuk disembunyikan dalam perut (swallowed) yang terus menjadi upaya primadona. Di penghujung bulan Mei hingga tanggal 22 Juni Ialu, Bea Cukai Soekarno-Hatta berkoordinasi dengan Polresta Bandara Soekamo-Hatta serta Bareskrim POLRI kembali berhasil menggagalkan empat kasus penyelundupan narkoba, dua diantaranya dilakukan dengan modus barang penumpang melalui terminal 3 kedatangan internasional, sementara dua Iainnya dilakukan dengan modus barang kiriman. Total Tangkapan dari keempat kasus tersebut adalah 4.651,75 gram Methampetamine.

Dalam konferensi pers yang digelar di Kantor Pelayanan Utama (KPU BC) Tipe C Soekarno-Hatta pada hari Kamis, 11 Juli 2019, Erwin Situmorang selaku Kepala KPU BC Tipe C Soekarno-Hatta menegaskan kronologi empat kasus penyelundupan narkotika ini kepada awak media.

Penggagalan Penyelundupan Methamphetamine melalui Terminal 3 Kedatangan lnternasional dan Gudang Impor Perusahaan Jasa Titipan (PJT) Bandara Soekamo Hatta

Kasus pertama, pada hari Kamis (30/5), berdasarkan profiling yang dilakukan petugas, dilakukan pemeriksaan atas penumpang pesawat dengan rute Nigeria-Ethiopia, Ethiopia-Jakarta, berinisial AT (30 th), yang diketahui adalah pria berkewarganegaraan Pantai Gading. Dari hasil pemeriksaan barang bawaan penumpang serta wawancara yang dilakukan, petugas mendapati hasil nihil. Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan mendalam dengan rontgen dan didapati didalam perut penumpang tersebut terdapat benda yang menyerupai kapsul-kapsul yang diduga berisi narkotika. Petugas selanjutnya membawa kembali penumpang tersebut ke kantor dan secara bertahap mengeluarkan semua kapsul tersebut dari dalam perutnya dengan jumlah total 47 butir kapsul. Setelah dilakukan pengujian terhadap kristal bening yang terdapat di dalam kapsul tersebut didapati positif Methamphetamine dengan berat 798 gram. Tersangka dan barang bukti selanjutnya diserahterimakan kepada pihak Polresta Bandara Soekarno-Hatta untuk ditindaklanjuti.

Kasus kedua dan ketiga‚ pada hari Senin (10/6), berdasarkan hasil pengawasan petugas terhadap barang kiriman yang benokasi di gudang impor Perusahaan Jasa Titipan (PJT) Bandara Soekamo Hatta. yang kemudian dilakukan pemeriksaan mendalam terhadap dua paket yang berasal dari Malaysia. Dari hasil pemeriksaan petugas bea dan cukai, petugas mendapati pada kedua sisi dinding kemasan dari paket-paket tersebut disembunyikan kristal bening. Paket pertama memiliki berat 937 gram dan diberitahukan sebagai “Vacuum Sealer” dan paket kedua dengan berat 1.060.75 gram dan diberitahukan sebagai “Table Fan” yang sudah di press dalam wadah plastik dan dilapisi dengan kertas karbon. Selanjutnya, pengujian dilakukan terhadap kristal tersebut dan didapati positif Methampetamine.

Hasil pengembangan kasus dengan pihak Bareskrim Polri yang bekerjasama dengan service center Aramex pada tanggal 11 Juni 2019 dilakukan controled  delivery ke alamat masing-masing pengirim dengan diawasi oleh tim gabungan. Selanjutnya tim berhasil mengamankan LP (25) di Sukabumi dan YS (31) di Jakarta Barat sebagai penerima paket. Sampai saat ini tim masih melakukan pengembangan.

Tidak lama berselang, pada hari Senin (22/6) berdasarkan hasil analisa citra X-ray dari profilling penumpang yang dilakukan oleh petugas, selanjutnya dilakukan pemeriksaan tehadap penumpang ex pesawat dengan rule Benin-Ethiopia, Ethiopia-Jakarta berinisial HMI (64) yang diketahui adalah pria berkewarganegaraan Republik Benin. Berdasarkan hasil pemeriksaan barang bawaan penumpang, petugas mencurigai kancing sejumlah 998 butir yang terpasang pada 8 piecea pakaian tradisional afrika yang dibawa penumpang tersebut. Setelah diperiksa, pada kancing tersebut terdapat serbuk kristal putih yang kemudian diidentifikasi sebagai Memamphetamine yang berjumlah total 1.856 gram. Daru hasil temuan tersebut petugas Bea Cukai Soekarno Hatta melakukan koordinasi dengan pihak Bareskrim Polri untuk dilakukan controled delivery. Pada tanggal 23 Juni 2019 tim gabungan berhasil mengamankan seorang WNI berinisial AS (19) yang mengaku diperintah oleh seorang warga negara Afrika untuk mengambil barang. Sampai dengan saat ini kasus ini masih dilakukan pengembangan.

Dalam kesempatan ini, Erwin Situmorang selaku Kepala KPU Bea dan Cukai Tipe C Soekamo-Hatta mengingatkan bahwa berdasarkan Undang-Undang Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika, para pelaku dapat diancam dengan hukuman pidana mati, pidana seumur hidup, atau pidana penjara paling lama 20 (dua puluh) tahun dan pidana denda maksimum Rp. 10 Milyar ditambah 1/3 dalam hal barang bukti melebihi 1 kilogram. Erwin pun menambahkan, bahwa upaya pemberantasan narkotika ini bukan hanya merupakan tugas aparat hukum saja, melainkan juga dibutuhkan peran aktif masyarakat dalam membendung peredaran narkotika dan melindungi generasi penerus bangsa dari penyalahgunaan narkotika itu sendiri. (sam)

(Visited 389 times, 1 visits today)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*